Kategori
movie

Rekomendasi Film dengan Seni Sinematik yang Indah

Rekomendasi Film dengan Seni Sinematik yang Indah

Rekomendasi Film dengan Seni Sinematik yang Indah – Sinematik adalah unsur pembangun sebuah film yang bersifat teknik, unsur sinematik sendiri terdiri dari beberapa aspek :Mise en scene, Sinematografi, Editing, & Suara.

Pengertian secara sederhana sinematik adalah mengambil gambar sesuai dengan kaidah film untuk bioskop. Coba perhatikan bila kita menyaksikan film yang diputar di bioskop nyaris tidak ada gambar (shot) yang kurang bagus, semua indah enak dilihat.

Sedangkan di dalam Daftar Sbobet Indonesia mise en scene ada 4 elemen penting antara lain : Setting, Tata Cahaya, Kostum dan make up, Akting dan pergerakan pemain.

Ada beberapa penjelasan foto/video di sebut Cinematic, beberapa faktor tersebut antara lain :

Tone Color.

Warna yg sering kita lihat di movie2x saat kita nonton bioskop, itu adalah warna Cinematic… Semakin dekat warna photo kita dgn warna yg kita lihat di movie2x… Maka semakin Cinematic foto kita <— (Faktor teknis Post-Processing)

Cerita dibalik foto

Bisa terlihat dari ekspresi dari objek, (senang, sedih, bingung, cinta, benci, dll). Atau bisa juga pesan menarik dari photo tsb. <— (Non teknis)

Cahaya

Cahaya yg bagus akan memperkuat mood dalam foto. Kwalitas Cahaya akan mempengaruhi kualitas warna dan dimensi foto. Dan tentunya ini bisa membuat foto terlihat lebih Cinematic…<— (Non teknis)

Aspek Ratio

Movie tidak pernah ditampilkan dgn rasio 3:2 or 6:7. Begitu juga dgn foto dgn Style Cinema. Aspek rasio yg sering dipakai adalah 16:9 dan 2.35:1. Rasio tsb adalah standar Wide Screen Movie.

Alexander Pope pernah mengatakan, “objek studi yang tepat untuk meneliti umat manusia adalah manusia itu sendiri.” Hal ini, tampaknya, juga berlaku untuk film. Objek studi sinematik adalah film, di mana keberhasilan serta kegagalannya dapat mengungkapkan segala prinsip-prinsip dasarnya.

Meskipun beberapa elemen film dapat diajarkan di dalam bangku sekolah — sinematografi, pencahayaan, dan suara — unsur kreatif yang tak berujung dari sinema lah yang telah membuatnya sedikit lebih rumit dari yang dapat kita bayangkan. Oleh karena itu, dengan menonton beberapa film hebat di masa lampau, mungkin kita dapat meningkatkan kemampuan dan selera kita untuk memilih film secara cerdas. Beberapa masterpiece di bawah ini akan mengajarkan kita banyak hal tentang seni sinematik selama satu abad terakhir. Berikut daftarnya.

1. The Passion of Joan of Arc (1928)

The Passion of Joan of Arc (judul asli: La passion de Jeanne d’Arc) menunjukkan kepada kita kalau kekuatan film bisu yang hebat tidak akan mati dimakan zaman. Namun seperti yang telah diketahui, film bisu memang sulit dicerna oleh sebagian besar audiens modern.

Setelah bertahun-tahun menonton film yang terpaku pada indra penglihatan dan pendengaran (audio-visual), film bisu mungkin akan terasa membosankan atau, lebih buruk, tidak pantas dilihat. Passion of Joan of Arc adalah pengecualian, di mana keberhasilan film ini dapat dilihat dari kinerja yang luar biasa dari aktor utamanya.

Penampilan Renee Maria Falconetti sebagai sosok Joan of Arc dalam film ini adalah contoh sempurna bagaimana satu orang yang tepat dapat “membopong” keseluruhan film ini sendiri. Dalam film ini, akting Falconetti sangat efektif sehingga penambahan suara justru akan menghilangkan esensi utamanya.

Memerankan sosok yang ikonik seperti Joan of Arc dan melakukannya dalam sebuah film bisu adalah pencapaian monumental Falconetti. Meski “bisu,” Passion of Joan of Arc tetap menarik untuk ditonton, menjadikannya sebuah film bisu hitam putih yang tak akan lekang oleh waktu.

2. Seven Samurai (1954)

Apa yang bisa diajarkan Seven Samurai kepada kita adalah bahwa hiburan dan filosofi dapat digabungkan ke dalam satu film. Cerita film ini sendiri kaya dan berlapis, menceritakan tujuh samurai asing yang bergabung untuk melindungi sebuah desa petani dari bandit lokal yang selalu menjarah dan mencuri hasil panen mereka.

Seven Samurai sendiri berhasil mengeksplorasi karakter masing-masing samurai dan interaksi mereka dengan penduduk desa, di mana mereka juga melakukan diskusi yang memancing pemikiran dan membahas seni perang yang filosofis di dalamnya.

Selain berhasil mendalami karakter masing-masing, para bintangnya juga dapat berbagi layar dengan apik. Memang, Seven Samurai bukanlah film pertama yang menggunakan aktor all-star. Namun, jelas sekali kalau keefektifan film ini benar-benar di perkuat oleh bintang-bintangnya.

Ketika kisah masing-masing karakter di ceritakan, para bintang Seven Samurai berhasil menunjukkan penampilan solo yang memukau. Namun, ketika datang ke adegan kerja sama, chemistry mereka dapat melebur dengan indah.

3. Lawrence of Arabia (1962)

Jika ia bisa berbicara, Lawrence of Arabia pasti memberi tahu kita kalau “seperti inilah sebuah film biografi seharusnya di buat.” Memang, membuat film biografi bukanlah hal yang mudah.

Terkadang, film biografi bisa keliru secara historis. Jika terlalu akurat, justru akan terasa begitu membosankan. Bahkan, film biografi yang over akan terlihat seperti pemujaan terhadap karakter tertentu.

Letnan T. E. Lawrence adalah seorang tokoh yang menarik, dan film ini berhasil mengupas hidupnya lewat perpaduan yang sempurna antara sisi kejujuran dan kreativitas Lawrence sepanjang hidupnya. Karena di buat dengan hati-hati dan terus terang, Lawrence of Arabia berhasil menjadi model untuk film biografi modern sampai saat ini.

4. 2001: A Space Odyssey (1968)

Apa yang bisa di ajarkan oleh 2001: A Space Odyssey kepada kita adalah bahwa sebuah film dapat menyajikan visi tertinggi tentang seluruh sejarah dan takdir umat manusia.

Film ini sendiri menelusuri eksistensi Homo sapiens di Bumi, mulai dari kehidupan primata hingga penjelajah luar angkasa, dan di akhiri dengan salah satu representasi paling ikonik dari apa yang dapat di cita-citakan oleh umat manusia.

Lewat 2001: A Space Odyssey, Stanley Kubrick dan Arthur C. Clarke tidak hanya membuat sebuah film tentang perjalanan ke luar angkasa atau asal-usul umat manusia, tetapi juga menjelaskan sebuah pertanyaan filosofis, “Apa artinya hidup manusia di dunia ini?”

Selain visinya yang luar biasa, 2001: A Space Odyssey juga memiliki scoring yang menakjubkan, yang mengajarkan kepada kita bahwa scoring dan soundtrack dapat menjadi salah satu elemen penting yang dapat memengaruhi keberhasilan sebuah film.

5. Barry Lyndon (1975)

Meski di adaptasi dari sebuah novel, sebuah film tidak harus memiliki kualitas yang lebih rendah daripada sumbernya. Itulah pelajaran yang di berikan oleh Barry Lyndon kepada kita. Mengadaptasi novel klasik (atau karya tulis apa pun) menjadi film adalah hal yang sulit. Dan sering berakhir dengan respon yang negatif.

Stanley Kubrick dapat mengubah novel yang kurang di kenal menjadi sebuah mahakarya. Yang bahkan lebih terkenal daripada karya aslinya. Selain itu, setiap frame di dalam Barry Lyndon bagaikan sebuah seni yang di buat oleh seorang pelukis.

Tidak dapat di sangkal kalau film ini terlihat sangat indah. Di mana beberapa adegan ikoniknya mungkin dapat di bingkai dan di gantung di dinding. Sekali lagi, Kubrick berhasil menggambarkan dirinya sebagai seorang perfeksionis. Yang tidak mau beristirahat sampai visinya tercapai.

Barry Lyndon adalah contohnya, yang berhasil menempati bagian puncak dari daftar-daftar film dengan visual yang menakjubkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *