Kategori
NEWS

[UPDATE] 2,9 Juta Warga Dunia Meninggal Dunia karena COVID-19

[UPDATE] 2,9 Juta Warga Dunia Meninggal Dunia karena COVID-19

Di lansir dari american-cannibal.com, kasus positif COVID-19 dunia masih menunjukkan tren peningkatan. Data dari laporan World O Meter tercatat, hingga Rabu (14/4/2021) pukul 05.30 WIB, ada 137.936.126 kasus positif virus corona secara global.

Di kutip dari IDN Poker APK, dari jumlah tersebut, angka kematian akibat virus corona masih bertambah mencapai 2.969.761 kasus. Sementara, kasus sembuh pun meningkat menjadi 110.857.483 orang.

1. Sebanyak 104 ribu orang dalam kondisi kritis akibat COVID-19

Dari total 137.936.126 kasus COVID-19, sebanyak 24.108.882 kasus di antaranya merupakan kasus aktif. Sedangkan, 113.827.244 kasus virus corona di anggap selesai akibat kematian atau kesembuhan.

Sebanyak 99,6 persen atau 24.004.678 kasus aktif COVID-19 saat ini terpapar virus corona dengan gejala dan kondisi ringan. Sementara, sebanyak 0,4 persen atau 104.204 sisanya dalam kondisi serius atau kritis.

2. Negara dengan kasus COVID-19 terbanyak

Adapun lima besar negara di dunia dengan kasus positif COVID-19 terbanyak masih di tempati Amerika Serikat (AS), India, Brasil, Prancis, dan Rusia.

AS masih menjadi negara dengan kasus COVID-19 terbanyak, yakni 32.063.367 kasus. Kemudian, India 13.871.321 kasus, Brasil 13.599.994 kasus, Prancis 5.106.329 kasus, dan Rusia 4.657.883 kasus.

Di wilayah Asia, Turki masih menjadi negara kedua tertinggi setelah India yang mengalami penyebaran virus corona terbanyak, yakni dengan total 3.962.760 kasus.

Kemudian ada Iran dengan 2.118.212 kasus, dan Indonesia 1.577.526 kasus, serta Irak 941.078 kasus.

3. Tiga negara dengan penambahan kasus harian dan kematian paling tinggi

AS, Brasil, dan India masih konsisten tercatat menjadi negara dengan penambahan kasus harian COVID-19 terbanyak. Masing-masing bertambah 577.131 kasus, 358.425 kasus dan 172.115 kasus.

Sementara, catatan penambahan kasus kematian harian tertinggi karena COVID-19 ada di Brasil dengan 3.394 kematian. Kemudian di susul India dengan 1.026 kematian dan AS 770 kematian.

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 RI terus mengkampanyekan gerakan 3M untuk menghentikan penyebaran virus corona. Yakni menggunakan masker, menghindari kerumunan atau menjaga jarak fisik, dan rajin mencuci tangan dengan air sabun yang mengalir.

Jika protokol kesehatan ini di lakukan dengan di siplin, maka di harapkan dapat memutus mata rantai penularan COVID-19. Oleh karenanya, menjalankan gaya hidup 3M akan melindungi diri sendiri dan orang di sekitar kita. Ikuti informasi penting dan terkini soal COVID-19 di situs covid19.go.id dan IDN Times.

Kategori
NEWS

[UPDATE] 137 Juta Warga Dunia Positif COVID-19

[UPDATE] 137 Juta Warga Dunia Positif COVID-19

Di lansir dari american-cannibal.com, kasus positif COVID-19 dunia masih menunjukkan tren peningkatan. Data dari World O Meter tercatat hingga Selasa (13/4/2021) pukul 07.25 WIB, ada 137.232.754 kasus positif virus corona secara global.

Di kutip dari IDN Poker APK, dari jumlah tersebut angka kematian akibat virus corona kini mencapai 2.957.810 kasus. Sementara, kasus sembuh pun meningkat menjadi 110.409.598 orang.

1. Sebanyak 104 ribu orang dalam kondisi kritis akibat COVID-19

Dari total 137.232.754 kasus COVID-19, sebanyak 23.865.346 kasus di antaranya merupakan kasus aktif. Sedangkan 113.367.408 kasus virus corona di anggap selesai akibat kematian atau kesembuhan.

Sebanyak 99,6 persen atau 23.761.334 kasus aktif COVID-19 saat ini terpapar virus corona dengan gejala dan kondisi ringan. Sementara itu, 0,4 persen atau 104.012 sisanya dalam kondisi serius atau kritis.

2. Negara dengan kasus COVID-19 terbanyak

Adapun lima besar negara di dunia dengan kasus positif COVID-19 terbanyak masih di tempati Amerika Serikat (AS), India, Brasil, Prancis, dan Rusia.

AS masih menjadi negara dengan kasus COVID-19 terbanyak, yakni 31.982.834 kasus. Kemudian, India dengan 13.686.073, Brasil dengan 13.521.409 kasus, Prancis sebanyak 5.067.216 kasus, dan Rusia 4.649.71 kasus.

Di wilayah Asia, Turki masih menjadi negara kedua tertinggi setelah India yang mengalami penyebaran virus corona terbanyak, yakni dengan total 3.903.573 kasus.

Kemudian ada Iran dengan 2.093.452 kasus, dan Indonesia 1.571.824 kasus, serta Irak 932.899 kasus.

3. Tiga negara dengan penambahan kasus harian dan kematian paling tinggi

AS, Brasil, dan India masih konsisten tercatat menjadi negara dengan penambahan kasus harian COVID-19 terbanyak. Masing-masing bertambah 576.288 kasus, 355.031 kasus dan 171.089 kasus.

Sementara, catatan penambahan kematian harian tertinggi karena COVID-19 ada di Brasil dengan 1.738 kematian. Kemudian di susul India dengan 880 kematian dan AS 450 kematian.

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 RI terus mengkampanyekan gerakan 3M untuk menghentikan penyebaran virus corona. Yakni menggunakan masker, menghindari kerumunan atau menjaga jarak fisik, dan rajin mencuci tangan dengan air sabun yang mengalir.

Jika protokol kesehatan ini di lakukan dengan di siplin, maka di harapkan dapat memutus mata rantai penularan COVID-19. Oleh karenanya, menjalankan gaya hidup 3M akan melindungi diri sendiri dan orang di sekitar kita. Ikuti informasi penting dan terkini soal COVID-19 di situs covid19.go.id dan IDN Times.

Kategori
NEWS

[UPDATE] 101.895 Warga Dunia Kritis Akibat COVID-19

[UPDATE] 101.895 Warga Dunia Kritis Akibat COVID-19

Di lansir dari american-cannibal.com, kasus positif COVID-19 dunia masih menunjukkan tren peningkatan. Data dari laporan World O Meter tercatat, hingga Sabtu (10/4/2021) pukul 07.30 WIB, ada 135.271.810 kasus positif virus corona secara global.

Di kutip dari IDN Poker APK, dari keseluruhan jumlah tersebut, angka kematian akibat virus corona masih bertambah mencapai 2.927.402 kasus. Sementara, kasus sembuh pun meningkat menjadi 108.845.226 orang.

1. Sebanyak 101 ribu orang dalam kondisi kritis akibat COVID-19

Dari total 135,2 juta kasus COVID-19, sebanyak 23.499.182 kasus di antaranya merupakan kasus aktif. Sedangkan, 111.772.628 kasus virus corona di anggap selesai akibat kematian atau kesembuhan.

Sebanyak 99,6 persen atau 23.397.287 kasus aktif COVID-19 saat ini terpapar virus corona dengan gejala dan kondisi ringan. Sementara itu, 0,4 persen atau 101.895 sisanya dalam kondisi serius atau kritis.

2. Negara dengan kasus COVID-19 terbanyak

Adapun, lima besar negara di dunia dengan kasus positif COVID-19 terbanyak masih di tempati Amerika Serikat (AS), Brasil, India, Prancis, dan Rusia.

AS masih menjadi negara dengan kasus COVID-19 terbanyak, yakni 31.798.104 kasus. Kemudian, Brasil dengan 13.375.414 kasus, lalu India dengan 13.202.783 kasus, Prancis sebanyak 4.980.501 kasus, dan Rusia 4.623.984 kasus.

Di wilayah Asia, Turki masih menjadi negara kedua tertinggi setelah India yang mengalami penyebaran virus corona terbanyak, yakni dengan total 3.745.657 kasus.

Kemudian ada Iran dengan 2.029.412 kasus, dan Indonesia 1.558.145 kasus, serta Irak 911.376 kasus.

3. Tiga negara dengan penambahan kasus harian dan kematian paling tinggi

India, Brasil, dan AS masih konsisten tercatat menjadi negara dengan penambahan kasus harian COVID-19 terbanyak. Masing-masing bertambah 144.829 ribu kasus, 89.090 ribu kasus dan 80.700 ribu kasus.

Sementara, catatan penambahan kematian harian tertinggi karena COVID-19 ada di Brasil dengan 3.647 kematian. Kemudian di susul AS dengan 858 kematian dan India 773 kematian.

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 RI terus mengkampanyekan gerakan 3M untuk menghentikan penyebaran virus corona. Yakni menggunakan masker, menghindari kerumunan atau menjaga jarak fisik, dan rajin mencuci tangan dengan air sabun yang mengalir.

Jika protokol kesehatan ini di lakukan dengan di siplin, maka di harapkan dapat memutus mata rantai penularan COVID-19. Oleh karenanya, menjalankan gaya hidup 3M akan melindungi diri sendiri dan orang di sekitar kita. Ikuti informasi penting dan terkini soal COVID-19 di situs covid19.go.id dan IDN Times.

Kategori
SHOPPING

Perubahan Perilaku Konsumen Belanja Barang Mewah selama COVID-19

Perubahan Perilaku Konsumen Belanja Barang Mewah selama COVID-19

Perubahan Perilaku Konsumen Belanja Barang Mewah selama COVID-19 – Dalam ilmu ekonomi, barang mewah adalah barang yang permintaannya meningkat lebih dari proporsional saat pendapatan naik, sehingga pengeluaran untuk barang tersebut menjadi proporsi yang lebih besar dari pengeluaran keseluruhan.

Survei dari McKinsey menununjukkan konsumen mengalami perubahan perilaku dalam pengeluaran diskresioner atau pengeluaran yang yang dihabiskan untuk pembelian yang tidak penting seperti liburan atau barang mewah, selama lockdown atau PSBB.

Survei ini dilakukan McKinsey terhadap IDN Poker APK konsumen di Tiongkok, India, dan Indonesia. Secara umum hasil survei menunjukkan sekitar dua pertiga responden di India dan Indonesia berharap dapat memulihkan pendapatan atau tabungan mereka yang hilang selama terjadinya lockdown ataupun PSBB.

1. Membatalkan membeli barang mewah

Pertama survei ini menunjukkan rencana konsumen menunda atau membatalkan pembelian barang mewah seperti kendaraan, perhiasan, renovasi rumah dan lainnya. McKinsey melaporkan 61 persen responden Indonesia yang, sebelum wabah, berencana membeli mobil mengatakan bahwa mereka akan membatalkan pembelian tersebut tahun ini. 39 persen masyarakat Indonesia dalam survei ini juga berencana membatalkan membeli perhiasan.

Selain itu, sebanyak 7 persen masyarakat Indonesia mengatakan mereka menunda atau membatalkan rencana pembelian produk perawatan kulit.

2. Belanja lebih sedikit

Hasil survei juga menunjukkan COVID-19 memengaruhi keinginan membeli konsumen yang cenderung mempertimbangkan lebih cermat terhadap pengeluaran yang tidak penting.

Responden di Tiongkok dan India misalnya, satu dari tiga responden menyatakan mereka berniat untuk membelanjakan lebih sedikit dari yang direncanakan. Namun, mereka membedakan antara harga dan nilai barang yang dibeli.

3. Memilih merek yang terpercaya

Meski konsumen membelanjakan uang mereka lebih sedikit dari sebelumnya, responden survei ini mengatakan mereka memilih merek terpercaya sebagai pertimbangan dalam membeli suatu barang. Meskipun tentunya konsumen secara aktif mencari diskon atau promosi, atau dengan beralih ke produk yang lebih murah ke merek lain.

Di Indonesia misalnya, 78 persen responden orang berencana membelanjakan lebih sedikit untuk pembelian ponsel ingin tetap menggunakan merek pilihan mereka.

4. Kegaluan konsumen karena menahan beli barang

Hasil keempat survei McKinsey ini menunjukkan bahwa mungkin ada perasaan bersalah atau galau yang terkait dengan pengeluaran untuk barang mewah. Bahkan, di antara mereka yang mampu membelinya—terutama untuk beberapa kategori yang lebih mencolok.

Di Tiongkok misalnya, sepertiga pembeli ponsel menyebutkan perasaan bersalah sebagai alasan mereka melakukannya karena menahan atau membatalan pembelian akibat pandemik ini. Lalu di India, satu dari lima konsumen yang berencana untuk mengurangi atau tidak membeli peralatan rumah tangga berukuran besar mengatakan bahwa alasan utama mereka adalah merasa tidak pantas untuk berbelanja, mengingat konteks sosial saat ini.

5. Belanja online  meningkat, tapi toko fisik masih primadona

Krisis COVID-19 membuat konsumen beralih belanja secara daring atau online. Tapi temuan McKinsey menunjukkan tingkat percepatan yang tidak merata di berbagai jenis saluran online. Meski begitu, McKinsey menyarankan perusahaan tetap bersiap dengan adanya peningkatan belanja online ini.

Meski diminati, temuan lain McKinsey menyebut toko fisik masih menjadi primadona. Responden survei berharap kembali ke toko fisik. Terutama untuk berbelanja pakaian jadi di Indonesia, serta ponsel dan peralatan rumah tangga kecil dan besar di India.

Kategori
NEWS

RS Tak Bisa Terima Pasien Lagi jika Kasus Corona Terus Naik

RS Tak Bisa Terima Pasien Lagi jika Kasus Corona Terus Naik

RS Tak Bisa Terima Pasien Lagi jika Kasus Corona Terus Naik – COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan. Ini merupakan virus baru dan penyakit yang tidak dikenal sebelum terjadi wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019.

Hampir setahun pandemik COVID-19 melanda Tanah Air dan lonjakan kasus positif COVID-19 kian tak terbendung. Akibatnya, rumah sakit kian penuh dan layanan pasien pun tak tersentuh.

Bahkan, Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Lia G Partakusuma khawatir jika lonjakan kasus COVID-19 terus terjadi, rumah sakit tidak bisa lagi menerima pasien download apk open card baru.

1. Pasien tidak mendapatkan pelayanan maksimal
Warning, RS Tak Bisa Terima Pasien Lagi  jika Kasus Corona Terus Naik

Lia menggambarkan pelayanan rumah sakit pun tidak bisa maksimal. Dalam kondisi penuh, pasien COVID-19 bisa jadi tidak masuk ruang isolasi melainkan di ruang biasa atau bahkan ruang emergency.

“Kita takut pasien tidak mendapatkan pelayanan sebagaimana kebutuhan pasiennya. Kami berharap ada penurunan (kasus COVID-19). Kalau naik terus, kita khawatir,” kata dia.

2. Rumah sakit hanya menunggu pasien pulang atau berpulang

Dalam kondisi jumlah pasien membeludak, maka rumah sakit akan menangani pasien yang sudah ada.

“Sambil menunggu, apakah pasiennya pulang atau berpulang. Gimana dong, ya sekarang ini juga fasilitas-fasilitas yang di rumah sakit tidak semua rumah sakit tercukupi lho,” ungkapnya.

3. Rumah sakit di Jawa dan Bali mulai mengalami gejala collapse syndrome
Warning, RS Tak Bisa Terima Pasien Lagi  jika Kasus Corona Terus Naik

Lia menilai saat ini rumah sakit di Jawa dan Bali sudah mulai mengalami gejala collapse syndrome di tengah penularan kasus COVID-19 yang terus melonjak. Lia mengatakan hal ini disebabkan hampir semua rumah sakit di Jawa dan Bali memiliki tingkat okupansi atau keterisian tempat tidur di atas 60 persen.

“Jawa Jabodetabek sampai Bali juga sudah mulai tanda-tanda kolaps syndrome, artinya lebih dari 60 persen, saya berharap ada penurunan kalau naik terus kita agak sedikit khawatir,” ujarnya.

4. Laju penambahan pasien COVID-19 terus naik
Warning, RS Tak Bisa Terima Pasien Lagi  jika Kasus Corona Terus Naik

Lia mengatakan rumah sakit sebenarnya sudah mengikuti seruan menteri kesehatan untuk menambah kapasitas tempat tidur untuk pasien COVID-19. Namun kondisinya tetap tidak sebanding dengan lonjakan pasien COVID-19 setiap hari.

“Rumah sakit harus mengikuti (surat edaran menkes) untuk menambah, tapi mungkin gak banyak. Namun ada juga yang sudah menambah 60 persen bed untuk pasien COVID-19, namun tidak secepat dengan penambahan pasien COVID-19 yang jumlahnya lebih dari persedian,” paparnya.

Kategori
NEWS

Jangan Malu Isolasi di Rumah Sehat karena Covid-19

Jangan Malu Isolasi di Rumah Sehat karena Covid-19

Jangan Malu Isolasi di Rumah Sehat karena Covid-19Penyakit virus corona (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang baru ditemukan ini.

Sebagian besar orang yang tertular COVID-19 akan mengalami gejala ringan hingga sedang, dan akan pulih tanpa penanganan khusus.
Provinsi Jawa Tengah sedang menjadi sorotan beberapa hari terakhir akibat lonjakan idn poker 99 kasus orang terjangkit virus corona yang meningkat. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menyebut Kota Semarang memiliki kasus tertinggi di Jawa Tengah saat ini. Ada sebanyak 12.019 kasus di sana dengan tingkat kematian tertinggi hingga 751 orang.
“Angka positif di Semarang, Kudus, Surakarta, Pati, dan Kudus agak naik dalam tujuh hari belakangan.” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Kenaikan Kasus COVID-19 Jawa Tengah (Jateng). Yang dilaksanakan secara virtual pada Selasa (01/12/2020) yang disampaikan dalam keterangan tertulis, Rabu (2/12/2020).
1. Luhut dorong masyarakat isolasi di fasilitas pemerintah
Jateng Terbanyak COVID-19, Luhut: Jangan Malu Isolasi di Rumah Sehat

Melihat kondisi tersebut, Luhut mendorong masyarakat agar melakukan isolasi di fasilitas pemerintah. Dia juga meminta Pangdam Diponegoro dan Kapolda Jawa Tengah membantu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk melakukan sosialisasi terus-menerus kepada masyarakat mengenai protokol kesehatan.

“Tolong bantu juga untuk mendorong supaya mereka yang kena atau positif segera ke tempat isolasi. Tidak usah malu (isolasi di fasilitas pemerintah),” ucap Luhut.

Kampanye ini menurutnya penting agar masyarakat tidak menunda mencari pengobatan sekalipun masih bergejala ringan.

2. Luhut minta Pemprov Jateng tingkatkan fasilitas isolasi
Jateng Terbanyak COVID-19, Luhut: Jangan Malu Isolasi di Rumah Sehat

Di sisi lain, Luhut juga meminta Pemprov Jateng untuk meningkatkan pemanfaatan fasilitas isolasi terpusat untuk pasien tanpa gejala dan bergejala ringan. Hal ini dilakukan agar pasien dapat dipantau secara optimal.

“Seperti di wisma atlet, pasien bergejala awal dan ringan pencegahan dan diisolasi sehingga mencegah kondisi gawat yang menyebabkan kematian,” tutur dia.

3. Luhut menegaskan BNPB siap bantu Jateng
Jateng Terbanyak COVID-19, Luhut: Jangan Malu Isolasi di Rumah Sehat

Mantan Kepala Staf Presiden itu khawatir bila pasien yang dinyatakan positif COVID-19 tidak segera diisolasi, mereka akan menularkan pada keluarganya. Luhut pun mendekati bahwa BNPB siap membantu Pemprov Jateng.